SPIRITUALITY WORLDVIEW DALAM SENI RUPA KONTEMPORER

Pameran ini secara sosial-historis dilatarbelakangi oleh fakta sejarah, bahwa  sejak masa pra-modern, modern, hingga kontemporer, seni rupa Indonesia didasarkan pada spirituality worldview. Sumber-sumber spiritualitas itu berasal dari kearifan lokal (local wisdom) dan bersumber dari ajaran-ajaran agama; Hindu, Budha, Konfusianisme, Kristiani, serta Islam. Inilah yang membentuk kebudayaan Nusantara melalui proses akulturasi, asimilasi, dan sinkretik/hibrit, didasarkan pada sumber-sumber religiusitas tersebut, yang akhirnya membentuk kesadaran spriritualitas. Fakta inilah yang membentuk ekspresi kebudayaan atau kesenian Nusantara tidak bisa dilepaskan dari arus utama kesadaran spiritualitas. Yaitu, terintegrasinya Teos (Tuhan), anthropos (manusia), dan kosmos (alam semesta). 

 

Seni rupa sebagai salah satu ekspresi kebudayaan Nusantara sebagai fakta ontologis memperlihatkan kompleksitas kultural yang di dalamnya terkandung gugusan gagasan, ide-ide, atau konsep filosofis yang mendalam-reflektif. Sistem gagasan itu diwujudkan ke dalam berbagai artefak, yang tidak hanya berbasis pada cita-rasa estetik murni, tetapi juga berbasis fungsi (form follow function), dan lebih dari itu, diwujudkan ke dalam benda-benda simbolik (form follow myth) yang bersumber dari kearifan lokal dan agama-agama yang berkembang di Nusantara. Semua itu membentuk konfigurasi worldview Nusantara, yang secara paradigmatik memperlihatkan hubungan triadik yang tidak bisa dipisahkan, yaitu nilai kebenaran (daya pikir/logika), nilai kebaikan (daya etik/etika), dan nilai keindahan (daya estetis/estetika).

 

Konfigurasi worldview Nusantara memperlihatkan adanya proses transformasi budaya Nusantara yang telah berlangsung berabad-abad dalam mempersatukan unsur-unsur budaya internal dan eksternal. 

 

Dalam transformasi budaya itu unsur-unsur budaya luar, yang akhirnya turut berkontribusi membentuk budaya dan seni yang dipandang baru. Anasir-anasir asing tersebut bertemu dengan budaya lokal, kemudian berdialektika secara kultural, membentuk gugusan budaya baru yang tidak saling menegasikan. Pertemuan tersebut mengindikasikan adanya kemiripan “ideal type” antara manusia India, Arab, China, dan manusia Nusantara, yang secara hakiki sifat-sifat dasar kebudayaannya berdasarkan dorongan spiritualitas (inner world).

 

Sementara itu, dalam lini masa dan lini ruang modern dan kontemporer yang dipengaruhi paradigma pemikiran ‘Barat’ (Ero-Amerika), arus utama spritualitas kenusantaraan tetaplah muncul dinamis dalam seni rupa Indonesia. Ini menandai kehadiran seni rupa modern/kontemporer Indonesia, yang didasarkan pada spirituality worldview (Nusantara), memiliki distingsi estetik yang khas. Fakta ini mencerminkan adanya invensi lain dari seni rupa modern yang berkembang di luar Barat. Praktik dan wacana seni rupa ini menegaskan adanya perkembangan seni rupa di luar arus utama seni rupa modern Barat yang didasarkan pada prinsip-prinsip Modernisme.

 

Atas dasar itulah, pameran ini menegaskan adanya penampang perkembangan seni rupa modern/kontemporer Indonesia yang khas. Didasarkan pada kesadaran spiritualitas yang perpangkal dari nilai-nilai religiusitas yang telah berkembang luas di Nusantara.

Tim Kurator