Andante con Espressione Monumen untuk Ki Ageng Pemanahan

ARSONO & META ANJELITA, 2020
240 x 60 x 150 cm
Plat Besi, Tekstil,
Las, Restdyng, Karat, Crystal Couting

Judul Adante con Esppressione yang artinya ‘berjalan perlahan-lahan dengan perasaan’ adalah inti dari permasalahan yang akan di ungkap dalam karya ini yaitu sebuah proses kembalinya manusia kepada sang pencipta. Telatah Mentaok adalah hutan belantara yang oleh Ki Ageng Pemanahan berhasil disulap menjadi kerajaan Mataram yang Agung; adalah Danang Sutawijaya putranya, yang memenangkan sayembara dengan mencundangi Arya Penangsang dengan menggunakan senjatanya yang terkenal Tombak Kyai Plered.
Karya berbentuk keranda (krendo, Jawa) merupakan simbol manifestasi kendaraan menuju nirwana yang terangkum dalam aura bunga rampai sebagai penghormatan terhadap para pendiri & para leluhur kerajaan Mataram tersebut. Keabadian itu kami wujudkan dengan keranda besi yang berkarat beruntaian bunga rampai.
Besi dan untaian bunga rampai yang berkarat mengalami proses alami yang tidak bisa dicegah adalah takdir bahwa segala sesuatu yang ada di semesta ini akan kembali pada penciptanya. Semuanya akan hancur menjadi tanah. Kembali ke tanah artinya kembali kepada sang pencipta yaitu kembali menuju ke kehidupan yang abadi. Seperti yang tertulis didalam Al-Qur’an surah Thaha, QS.20, Ayat. 55
“Dari bumi (Tanah) itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”
Dan Surah Al-Anbiya, QS.21, Ayat. 35“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”
Bahwa kematian yang sesungguhnya adalah bukan akhir dari segala-galanya tapi justru awal dari perjalanan menuju keabadian.
Videografi : Anjar Widyarosadi Arabic kaigrafi : Ustadz Robetnasrullah