THE WORLD IS NOT ENOUGH

DEDDY PAW, 2020
120 x 250 cm
Cat Minyak & Akrilik di Kanvas

ENJOY LIFE WITH GRATEFUL

DEDDY PAW, 2020
80 x 120 cm
Cat Minyak & Akrilik di Kanvas
BERSYUKUR menurut Islam yakni wujud terima kasih seorang hamba kepada Tuhan atas nikmat yang telah diperolehnya. Bersyukur dapat diterapkan dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Allah SWT berjanji akan melipatgandakan karunia-Nya kepada orang-orang yang senantiasa bersyukur. Kepada orang yang menerima takdirnya dengan ikhlas, lapang dada, serta menghadapi cobaan apa pun dengan bersabar dan tidak mengeluh, maka Allah akan menaikkan derajat mereka. Sedangkan orang-orang yang kufur nikmat, sering mengeluh, dan selalu merasa kurang, maka hidup mereka tidak diberkahi oleh Allah SWT.
Bersyukur merupakan salah satu perintah Allah, seperti firman-Nya berikut: “Dan syukurilah nikmat Allah jika hanya kepada-Nya saja kamu menyembah”. (QS. An Nahl : 114). Jadi, orang yang senantiasa bersyukur berarti telah menjadikan rasa syukur tersebut sebagai lahan ibadah, sebab telah menjalankan salah satu perintah-Nya. Keutamaan bersyukur juga dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).
Ayat-ayat di atas menegaskan, bahwa umat Islam diwajibkan untuk bersyukur. Bagaimana pun kondisi kehidupannya, rasa syukur tetap harus dilantunkan untuk Sang Pencipta. Sebab Allah-lah yang telah memberikan kehidupan kepada manusia. Dan kehidupan sendiri adalah suatu karunia yang luar biasa.
Merebaknya penyakit koronavirus bernama Covid-19 –yang bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok, sejak Desember 2019 hingga kini ‘menyerang’ ke lebih dari 210 negara dan wilayah, termasuk Indonesia—telah mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal dunia. Selain merenggut nyawa, pandemi ini juga mengakibatkan gangguan sosioekonomi global. Gara-gara ‘ulah’ virus mematikan yang sampai sekarang belum ada ‘penangkalnya’ itu, jutaan bahkan milyaran orang menjadi ‘susah’.
Selain mematuhi protokol kesehatan Covid-19, ‘obat mujarab’ untuk melindungi diri agar tidak ‘susah’ adalah senantiasa bersyukur. Menurut Islam, beberapa cara bersyukur yang dianjurkan di antaranya: Selalu mengingat Allah dalam hati nurani, menjauhi penyakit hati, mengucapkan kalimat-kalimat pujian untuk Allah SWT, meningkatkan ketaqwaan, beramal kepada orang-orang yang membutuhkan, jangan selalu melihat ‘ke atas’, tapi tengoklah orang-orang ‘di bawah’, senantiasa tersenyum, serta merawat nikmat Allah SWT.
Bisa jadi, pandemi Covid-19 adalah salah satu ‘cobaan’ dari Allah SWT yang diturunkan kepada para hambanya. Mungkin Tuhan ingin ‘menjajal’, seberapa tangguh dan digdayanya para manusia di bumi menerima ujian-Nya. Seberapa besar pula ketaqwaan dan kesetiaan umat manusia di dunia menjalankan perintah-perintah-Nya.
Dalam lukisan berjudul “Enjoy Life with Grateful Heart” (Menikmati Hidup dengan Bersyukur) ini, tampilan buah apel yang selalu dijadikan subject matter sejak 2003 oleh sang pelukis dimaksudkan sebagai simbol kenikmatan, kedamaian, dan harapan. Sedangkan 7 kupu-kupu yang terbang melingkar melambangkan harmoni dan indahnya kehidupan manusia di dunia. Kupu-kupu –selain sebagai simbol kasih sayang—adalah serangga yang sering diidentikkan dengan keindahan. Sebab, sejak lahir hingga mati, mereka mengisi hidupnya penuh keindahan. ‘Sepak terjang’ kupu-kupu selalu memesona, dan tak pernah sekali pun menyakiti atau mengganggu makhluk lain.
Selain apel dan kupu-kupu, Deddy PAW juga menampilkan abstraksi birunya air samudera sebagai latar belakang lukisan. Visualisasi gelombang dan gemuruh ombak lautan tersebut melambangkan dinamika alam dan kehidupan yang tak selalu tenang. Tidak setiap hari kita bisa menikmati segarnya air yang bersih dan tenang, karena terkadang datang pula badai atau tsunami yang tiba-tiba menerjang. Jika kita tidak memiliki ‘pengendali’ atau ‘pengontrol’ diri –disimbolkan dengan blok/kotak biru persegi panjang di sudut kiri-atas lukisan—bisa dipastikan kita akan gampang terbawa arus. Oleh karena itu, setiap insan harus memiliki pengendali diri berupa pengetahuan, pengalaman, agama, dll.
Sedangkan visualisasi segitiga sama sisi berwarna putih –di bawah kotak biru persegi panjang—dimaksudkan sebagai simbol hubungan vertikal manusia dengan Allah (habluminallah), serta hubungan horizontal manusia dengan sesama (habluminannas) dan hubungan manusia dengan alam (habluminal’alam). Hubungan baik kita dengan ketiga hal tersebut wajib dibina dan dijaga keseimbangannya, agar Tuhan senantiasa memberikan hidayah di kala kita dilanda kesusahan.

MOTHER'S LOVE IS ETERNAL

DEDDY PAW, 2019
140 x 250 x 4 cm
Cat Minyak & Akrilik di Kanvas
KASIH sayang ibu terhadap anaknya tidak akan pernah habis, serta tak akan pernah hilang dimakan waktu. Kasih ibu tak terbatas, selamanya, seumur hidup. Dan, sebesar apapun harta yang dimiliki, waktu yang tersita, serta peluh yang menetes sebagai perwujudan kasih sayang seorang anak kepada ibunya, tak akan mampu membalas atau menyamainya.
Ide lukisan ini diambil dari hadis Nabi Muhammad, yang mengatakan bahwa ‘Surga itu di Telapak Kaki Ibu’. Para ibu, kelak di surga berada di tempat tertinggi, dan setiap makhluk berada di bawah derajat tersebut.
‘Surga itu di Telapak Kaki Ibu’ adalah kata kiasan, betapa kita wajib mentaati dan berbakti pada ibu. Mendahulukan kepentingan beliau, mengalahkan kepentingan pribadi, karena ibulah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui, serta mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan meraih kesuksesan hidup. Hingga diibaratkan, letak diri kita bagaikan debu yang ada di bawah telapak kakinya bila kita ingin meraih surga.
Satu ibu, tanpa membeda-bedakan dan tanpa pilih kasih, bisa merawat serta melindungi sembilan anak. Tetapi sembilan anak belum tentu bisa merawat dan melindungi satu ibu. Pesan moral yang ingin disampaikan lewat lukisan ini adalah: Selalu hormat dan berbaktilah kepada ibu. Janganlah berbuat tidak sopan, kasar, dan sewenang-wenang, sebab surga itu di bawah telapak kaki ibu.