IQRA REWORK

RAY BACHTIAR, 2020
9:45 menit

Video Art, Foto montase

In various readings, and discussion with the eldest people who usually really like history subject, when we discuss the story of wali (saint of Islam), in addition to the famous figures like Sunan Giri and Sunan Kalijaga, there are also other names frequently called, like Ibrahim Asmarakandi and Raden Rahmat. Ibrahim Asmarakandi (Ibrahim from Samarkand) is a theologist who impressed the King of Campa (now Cambodia) until the King converted to Islam. Ibrahim Asmarakandi married with one of the two daughters of the King of Campa, the other daughter had already been the wife of the King of Majapahit in Java.     Dalam berbagai bacaan, dan juga obrolan dengan orang-orang tua yang biasanya sangat menyukai sejarah, bila menyinggung soal para wali, maka selain tokoh-tokoh terkenal seperti Sunan Giri dan Sunan Kalijaga, ada nama lain yang sering disebut, yaitu Ibrahim Asmarakandi dan Raden Rahmat. Ibrahim Asmarakandi (:Ibrahim dari Samarkand) adalah tokoh ulama yang pada suatu ketika sangat mengesankan bagi Raja Campa (wilayah Kamboja sekarang) sehingga membuat sang Raja masuk Islam. Ibrahim Asmarakandi menikah dengan salah seorang dari dua putri Raja Campa, sedangkan putri yang satu lagi sudah menjadi istri Raja Majapahit di Jawa.

            One of the children of Ibrahim Asmarakandi and the daughter of Raja Campa is called Raden Rahmat, when he was 20 years old and very acknowledgeable of the religious science, he decided to pay visit to his aunt in Majapahit. Raden Rahmat tried to convert the King of Majapahit (the husband of his aunt), but it is difficult for The King due to his position. Therefore Raden Rahmat was given a land in Surabaya area (Ampel) and was asked to take 300 household (some said 3,000 people) to build a new village, and to open a new “pesantren” (religious boarding school) there. Salah seorang anak Ibrahim Asmarakandi dengan putri Raja Campa itu bernama Raden Rahmat, saat berumur sekitar 20 tahun dan sudah sangat tinggi ilmu agamanya, bermaksud mengunjungi tantenya di Majapahit. Raden Rahmat pun berusaha mengislamkan Raja Majapahit (suami tantenya), namun Sang Raja mengaku kesulitan dengan posisinya sebagai raja. Lalu Raden Rahmat diberi lahan di daerah Surabaya (Ampel) dan disertakan padanya 300 keluarga (:ada juga yang menyebutnya 3.000 orang) untuk membangun desa baru, dan membuka “pesantren” di sana.

 Raden Rahmat, who was then known as Sunan Ampel,  showing a real illustration of how Islam could enter the heart of the Kingdom of Majapahit at that time without any conflict, but just directly. This condition is in accordance with the acceptance of Islam by the coastal community through business-relationship, friendship as well as marriages and family relations. If then Islam spreads wisely and accepted by the heart of all  members of the community, of course there are so many theories and ideas. But in general, it can easily be understood, since spiritually there is a unity, if it can’t be called unanimous. At that time in the center of development of Islamic world, a condition had been created; mu’tazilah concept, which underlines rationality and science (math, chemistry, philosophy, etc) lead by Ibnu Rusyd and friends, had been ‘conquered’ by the concept of Sufi  lead by Al Ghazali (who past away in 1111 BC). Therefore, Islam that spreads in Nusantara (Indonesia) brings along the concept of tasauf (Sufism) that had similarity with the spiritual way of the local community.

Raden Rahmat yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, dengan demikian, merupakan gambaran nyata betapa Islam bisa masuk ke jantung istana kerajaan Majapahit kala itu tanpa konflik atau apa pun, melainkan dengan cara masuk begitu saja. Kondisi demikian pun seiring dengan penyerapan Islam oleh masyarakat pesisir melalui hubungan dagang, relasi-persahabatan dan juga pernikahan dan kekerabatan. Dan jika kemudian Islam menjadi begitu meluas mengena di sanubari seluruh warga masyarakat, tentu banyak teori dan pendapat yang boleh jadi makin beragam. Namun secara umum dapat dipahami, karena secara semangat spiritual memang ada keberseragaman, kalau tak boleh dikatakan kesamaan. Kala itu di pusat pertumbuhan dan perkembangan dunia Islam telah tercipta suatu kondisi dimana faham mu’tazilah yang mengedepankan rasionalitas dan keilmuan (matematika, kimia, filsafat, dll) yang ditokohi Ibnu Rusyd dkk, telah “dikalahkan” oleh faham kesufian yang ditokohi Al Ghazali (wafat 1111 M). Dengan demikian Islam yang masuk ke wilayah Nusantara adalah yang cenderung berfaham tasauf (sufisme), dan  spiritnya banyak kesamaan dengan spirit kerohanian setempat.

 

Further more, the religious leaders who spread the religion under the Assembly of the Saints (Wali Sanga), cleverly adopting the teaching of Islam into the local custom, like the cultural tradition of wayang (shadow puppets). The other way is by spiritualize the Islamic concept by changing the terms of principals. For example, the principle of 5M aiming to ‘reach God” where praying has to follow five ritual steps, which are Mamsa (eat meat), Matsya (eating fish), Madya (drink alcohol), Maituna (sexual intercourse), then Mudra (‘towards’ God). These 5M principles were then redefined as the forbidden, therefore th5 M during the Islamic period are Maling (stealing), Madon (prostitution), Madat (drugs), Main (gambling), Minum (drinking alcohol). The wali created an ad hoc committee to tidy up the problem of healing mantras, home appliances, poetry ( cultural, traditional ceremony or past time), children’s games and toys, agriculture, etc. For example, Sunan Kalijaga is famous for creating new understanding about the spirit of agriculture by connecting it with the tools like pacul (spade) and luku/garu(plough), where parts of tools where given meanings connected to the wisdom of working hard for good reason for Allah SWT. Kemudian juga, para tokoh penyebar agama yang tergabung dalam Majelis Para Wali (Wali Sanga), secara cerdik memasukkan ajaran-ajaran Islam ke dalam kebiasaan-kebiasaan masyarakat, seperti ke dalam kesenian tradisi wayang. Ada pula dalam cara menjiwakan ajaran Islam dengan mengganti muatan dari istilah prinsip yang sama. Seperti misalnya prinsip 5M, yang kala itu di kalangan masyarakat Jawa berkembang suatu tradisi ritual dengan 5M yang intinya untuk “mencapai Tuhan” atau bersembahyang perlu melalui lima tahap ritual, yaitu Mamsa (makan daging), Matsya (makan ikan), Madya (minum minuman keras), Maituna (melakukan persetubuhan), baru kemudian Mudra (sikap “menuju” pada Tuhan). Paham 5M itu diubah menjadi hal-hal yang terlarang, sehingga 5M masa Islam adalah Maling, Madon (melacur), Madat (narkoba), Main (berjudi), Minum (minuman keras). Para wali pun membentuk semacam panita ad hoc untuk melakukan pembenahan dari persoalan mantra-mantra pengobatan, peralatan rumahtangga, tembang-tembang (:baik yang bersifat seni, untuk kegiatan upacara tradisi, maupun pengisi waktu luang), macam ragam dan muatan permainan anak-anak, kegiatan pertanian, dan sebagainya. Sebagai misal, Sunan Kalijaga sangat dikenal melakukan pembaharuan pemahaman tentang spirit bertani dengan mengaitkannya dengan peralatan seperti pacul dan luku/garu, yang masing-masing bagiannya diberi arti berkaitan dengan bekerja dengan giat dan baik demi Allah SWT.

 

In fact, when the wali had been done many lectures and reformation in the tradition of the local community, they had a long discussion that they had not yet been able to completely spread the teaching of Islam. Nevertheless, the discussion was resumed with the faith that someone would ‘complete’ the task in the future. Therefore now we still find results of acculturation of a culture both dominant in traditional ways and Islamic values, because in fact, perhaps, there is no contradiction among them.

Memang, ketika para wali itu merasa telah melakukan banyak kegiatan dakwah dan pembaruan dalam kehidupan masyarakat tradisi, pernah terjadi suatu diskusi yang alot, yang kesimpulannya mereka sepakat belum berhasil menyebarkan ajaran Islam secara sempurna. Namun diskusi itu akhirnya ditutup dengan keyakinan bahwa kelak akan ada yang “menyempurnakannya”. Maka hingga kini kita masih menemukan banyak kegiatan hasil kulturasi budaya yang sama-sama dominan antara tatacara tradisi dengan nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya, karena pada dasarnya, barangkali, memang sesungguhnya tidak bertentangan satu sama lain.

————————————

 One time in the past, our first president, Soekarno wanted to celebrate Maulid Nabi Muhammad  SAW (the birth of Prophet Muhammad SAW) at the palace’s mosque (Baiturrahim Mosque) instead of the state’s mosque (Istiqlal Mosque) like other ceremonies. If the tradition continues until now and then, we might say that the tradition of celebrating Maulud Nabi in fact is organized using state’s customs by the Government at the palace’s mosque. 

————————————-

Tradition, is in fact related to habit. The tradition of welcoming state’s guests with 21 times of boom of canon.. but why it has to be boom of canon, and it has to be 21 times? The tradition of celebrating National Independence Day by organizing exciting competitions.  Nevertheless the celebrations can be different in each place. Some people in certain neighborhoods organize a mass praying and dinner on the night of the 17th August. In other place, celebration takes place in the mosque, but in other place a musical performance is organized on the night of the 17th. Nevertheless, the red and white colors symbols are always there. In addition to the symbol of diversity, unity in diversity, including the numeric symbols of 17, 8, and 45 (the date of Independence Day, 17 August ’45). Tradisi, sesungguhnya berkaitan dengan kebiasaan. Tradisi penyambutan tamu kehormatan negara dengan dentuman meriam 21 kali, tradisi peringatan HUT RI yang diselenggarakan tiap tahun dengan berbagai macam acara dengan pelaksanaan rangkaian acaranya di setiap tempat bisa berbeda. Tapi yang pasti, simbol-simbol warna merah dan putih tak akan ketinggalan. Begitu pun simbol-simbol keanekaragaman, serta kesatuan dan persatuan, termasuk simbol-simbol angka 17, 8, dan 45.

            Traditions, customs, symbols in regards to ceremonies, are necessary and needed. A change might happen when it is considered important to have a new meaning of message context to be conveyed through the ceremonies, after agreement from all parties concerned. Since all activities or ceremonies are also symbol. Tradisi, tatacara, simbol-simbol, dalam kaitan dengan kegiatan ataupun upacara-upacara tertentu, kiranya memang perlu, dan memang diperlukan. Suatu perubahan mungkin saja terjadi, ketika dipandang perlu adanya suatu pemaknaan baru dalam konteks pesan yang akan disampaikan melalui kegiatan ataupun upacara tersebut, dan setelah pula ada kesepakatan para pihak.

 

It is interesting to observe the process of the traditional ceremonies starting from the ceremony of Ngislamkeun or Sunatan and the ceremony of Salawat Mulud or celebration of the birth of Prophet Muhammad SAW, in Rancakalong (Sumedang, West Java), the ceremony of Akil-Balig in Lelea Village (Cirebon, West Java) and the ceremony of Nyangku or the ceremony of cleansing of sword inherited from Baginda Sayyidina Ali and other heritage, in Panjalu (Kuningan, West Java). Sebab, kegiatan ataupun upacara itu sendiri sesungguhnya juga simbol. Menarik sekali menyimak acara demi acara pada upacara-upacara tradisi yang dimulai dari upacara Ngislamkeun atau Sunatan dan upacara Salawat Mulud atau pemuliaan kelahiran Nabi Muhammad SAW di Rancakalong (Sumedang, Jawa-Barat), upacara akil-balig di desa Lelea (Cirebon, Jawa-Barat), dan upacara Nyangku atau Upacara pencucian pedang peninggalan Baginda Sayyidina Ali dan pusaka-pusaka lainnya di Panjalu (Kuningan, Jawa-Barat), yang selalu dilengkapi sesajen atau kolase dan assembling berbagai macam benda (sandang, pangan, kriya, ataupun benda lainnya). Penuh makna dan simbol.

All ceremonies mentioned above that are very much loaded with tradition in relation to the development of local history, which are indeed very local, are the proof of peace way of islamisation in the Indonesian tradition and culture since 500 years ago. If this time those tradition are intently being documented as part of history of traditions, it is natural since perhaps tomorrow or a day after tomorrow, all those traditions are no longer exist. Berbagai kegiatan yang sangat bermuatan tradisi sesuai perkembangan sejarah lokal, dan bahkan sangat lokal itulah, bukti telah terjadi pengislaman secara damai dalam tradisi dan budaya sejak lebih 500 tahun lalu. Jika kali ini kegiatan-kegiatan tradisi tadi sengaja saya abadikan, dengan maksud melakukan pendokumentasian sebagai sejarah tradisi, adalah wajar-wajar saja sebab bisa saja esok atau lusa upacara-upacara itu sudah tidak ada lagi.

 

Interested in the above fact, with the support of the creative team of RBS Studio, I encourage myself to choose that wide theme and finely cut it in the form of Photography Installation called: “IQRO” [unfinished work…] Tertarik dengan kenyataan tersebut, dibantu tim kreatif RBS Studio, saya tetap memberanikan diri menampilkan tema besar tersebut dan meraciknya dalam wujud Instalasi Fotografi bertajuk: “IQR0” [unfinished work…]

—————————–

Meski kerja ini belum selesai, kiranya masih cukup layak untuk disosialisasikan. Untuk itu, selayaknya juga jika saya ucapkan terimakasih kepada British Council sebagai sponsor, Yudi Soerjoatmodjo yang telah memberi kesempatan dan dorongan kepada saya untuk menampilkan tema Islam tradisional, mas Budi Rahardjo yang terus membimbing dalam hal penulisan, Syaiful Boen yang telah membuat frame cantik dari kayu jati Sumedang, Armand Maulana untuk studio-rekamannya, keluarga besar Komunitas Lubang Jarum Indonesia Jakarta dan Jogja, Dian Jarahnitra, Lina Sofiani, serta rekan-rekan yang tidak bisa saya sebut satu persatu yang telah dengan suka rela membantu mewujudkan karya ini.

Tak lupa kepada nara sumber yang bahkan sudah terdokumentasi tapi karena keterbatasan waktu dan jarak untuk merampungkannya tidak bisa hadir dalam karya kali ini. Semoga Allah SWT berkenan memberikan taufik dan hidayahnya, juga memberikan kemanfaatan atas kelancangan saya ini.

 ——————————

I wish that Allah SWT would grant advantages for our imprudent. Limitation is merely part of our weaknesses as a human being who wants to always learn.

Maaf jika masih banyak terdapat berbagai kekurangan atau bahkan menyinggung umat, Demi Allah, ini semata-mata karena kelemahan saya sebagai manusia yang masih ingin terus belajar.

 

 

 

Jakarta, 17 Agustus 2003

 

( Ray Bachtiar Dradjat )