Sanjiao

TJUTJU WIDJAJA, 2020
3x (60 x 80) cm
Tinta China di atas kertas dan Kanvas

Sanjiao atau Tiga Ajaran adalah manifestasi dari sinkretisme dari tiga keyakinan utama orang-orang Tiongkok: Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme. Semangat orang-orang Tionghoa telah lama selaras dengan spiritualitas modern, yang melihat satu tujuan meskipun keyakinan berbeda. Dalam bahasa Mandarin, ini disebut 三 而 一 也 (san er yi ye): “tiga adalah satu”, atau 含三 为 一 (han-san wei-yi): “satu yang terdiri dari tiga”. Ketiga aliran tersebut memiliki tujuan yang sama walaupun terdapat sedikit perbedaan. Pengaruh ajaran Sanjiao di Tiongkok perlahan menghilang seiring dengan paham Komunisme yang dijadikan asas ideologi negara tersebut. Namun ajaran Sanjiao tetap dipraktikkan di negara berpenduduk Tionghoa perantauan yakni di Taiwan, Hong Kong, Macau, Singapura dan Indonesia. Kini di Indonesia, Sanjiao resmi disebut sebagai Tridharma, sedangkan Kelenteng diakui sebagai lembaga keagamaan yang disebut sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD)).  Penetapan tersebut diberlakukan oleh Menteri Agama R.I pada 19 November 1979. Sistem religi dalam Sanjiao dapat dimaknai sebagai hasil dari karakter masyarakat Tionghoa yang memiliki proses adaptasi yang sinkretik terhadap hal-hal yang dinilai berbeda dan berlainan, hal ini dapat ditinjau dari sinkretisme pada Sanjiao yang secara kompromistis memadukan ajaran Buddha, Tao dan Konfusius.

 

Pada karya ini saya membuat karya yang terdiri dari 3 panel berukuran masing-masing 60 x 80 cm. Masing-masing panel menampilkan karya kaligrafi China modern yang memuat teks-teks yang berkaitan dengan Buddhisme, Taoisme dan Konfusianisme. Teks pertama yakni “慈悲”, yang bermakna “welas asih”, sebuah ajaran inti dalam Buddhisme yang mengedepankan rasa kasih sayang, simpati dan kedermawanan. Teks kedua yakni “和谐”, yang bermakna “harmoni”, sebuah filsafat hidup dan ajaran inti dalam Taoisme yang meyakini bahwa alam semesta bekerja atas unsur-unsur yang berlawanan namun saling melengkapi dan menyeimbangkan. Teks ketiga yakni “尊卑” yang bermakna “hirarki”, sebuah filsafat hidup dan ajaran inti dalam Konfusianisme, ajaran ini meyakini bahwa alam semesta dan kehidupan memerlukan sistematika untuk dapat berjalan sebagaimana mestinya, sesuatu harus ditempatkan sesuai dengan tingkat atau derajatnya.

 

Teks kaligrafi dalam karya ini telah saya abstraksi dengan lebih mengekspos aspek rupa/visualnya, sehingga unsur-unsur estetiknya seperti bentuk, tarikan, dimensi dan komposisi garis kaligrafi terhadap bidang gambar merupakan hal yang terpenting dalam proses kreasi dan apresiasinya. Hal ini yang membedakan karya saya dengan karya kaligrafi China tradisional/konvensional. Meski demikian, dalam praktiknya saya masih menggunakan unsur-unsur wajib dalam medium seni kaligrafi yang disebut dengan“文房四宝”(wengfang shibao); (kuas, kertas, tinta dan mangkuk tinta). Upaya saya dalam hal ini dapat dimaknai sebagai aktivitas sinkretis antara seni kaligrafi tradisional dan seni rupa kontemporer.